Tokoh Sunda Harapkan Rully Alfiady Jadi Konduktor Orkestra Gerakan Sunda
2 min read
Pakusarakan.com, Bandung — Sejumlah tokoh masyarakat Sunda yang tergabung dalam Majelis Masyarakat Sunda (MMS) menyambangi Ketua Umum Pengurus Pusat Angkatan Muda Siliwangi (AMS) terpilih, Rully Alfiady, di Sekretariat AMS, Jalan Braga 25B, Kota Bandung, Minggu sore (21/06).
Kunjungan tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus bentuk ucapan selamat atas terpilihnya Rully Alfiady sebagai Ketua Umum PP AMS periode 2026-2031. Dalam pertemuan itu, MMS dan AMS sama-sama menyampaikan rasa syukur serta komitmen untuk terus memperkuat kolaborasi yang selama ini telah terbangun.
Baca juga: Rully Alfiady Pimpin AMS untuk Lima Tahun ke Depan
Hadir dalam kesempatan tersebut sejumlah tokoh Sunda, di antaranya Andri Kantaprawira, Ernawan, Roza Rahmalia Mintareja, Henda Surwenda, Paskah Irianto, Asep Jaelani dari Paguyuban Asep Sedunia, Agung Suryamal, Dyna Ahmad, serta tokoh lainnya.
Para tokoh MMS berharap kepemimpinan Rully Alfiady ke depan mampu membawa AMS menjadi bagian penting dalam membangun gerakan kebudayaan dan kemasyarakatan Sunda yang semakin solid. Salah satu harapan yang mengemuka adalah agar Rully dapat berperan sebagai “konduktor orkestra” yang mampu menyatukan berbagai elemen gerakan Sunda.
Harapan tersebut bermakna bahwa gerakan Sunda membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengatur harmoni, membangun sinergi, serta memastikan setiap unsur masyarakat mengambil peran sesuai kapasitasnya. Sebagaimana sebuah orkestra, setiap instrumen memiliki fungsi berbeda, tetapi menghasilkan karya yang indah ketika dimainkan dalam irama yang sama.
Rully Alfiady menyambut harapan tersebut dengan menegaskan bahwa gerakan Sunda harus dibangun melalui semangat kebersamaan dan saling melengkapi.
“Gerakan Sunda harus menjadi sebuah orkestra kolosal. Yang masing-masing paham, mengerti, tahu dan kapan harus mengambil peran. Sehingga menjadi sebuah gerakan yang saling melengkapi satu sama lain,” ujar Rully.
Menurut Rully, AMS tidak dapat berjalan sendiri, melainkan harus menjadi bagian dari ekosistem besar masyarakat Sunda yang terdiri dari berbagai organisasi, komunitas, tokoh, dan kelompok masyarakat dengan perannya masing-masing.
Ia menambahkan bahwa seorang pemimpin dalam konteks tersebut bukan hanya bertugas memberi arahan, tetapi juga mendengarkan, menyelaraskan, dan memastikan seluruh elemen bergerak menuju tujuan yang sama. Dalam konsep kepemimpinan orkestra, seorang konduktor berperan menjaga ritme, koordinasi, dan harmoni agar berbagai unsur dapat tampil sebagai satu kesatuan.
Sebelumnya tokoh Sunda Ernawan S. Kusumatmaja menyampaikan pandangan bahwa AMS harus mampu menjadi “konduktor orkestra yang baik”, yakni organisasi yang mampu menggerakkan berbagai potensi masyarakat Sunda secara harmonis.
Pertemuan MMS dan AMS tersebut sekaligus menegaskan komitmen kedua organisasi untuk melanjutkan kerja sama dalam berbagai bidang. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kelembagaan, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat Jawa Barat dan pelestarian nilai-nilai Sunda.
Dengan dukungan para tokoh masyarakat Sunda, kepemimpinan Rully Alfiady di AMS diharapkan menjadi energi baru bagi lahirnya gerakan Sunda yang lebih inklusif, terkoordinasi, dan mampu menjawab tantangan zaman. (Ipur)





